Tuesday, February 1, 2011

puisi pada senja

Hening
Sahabatku adalah hening,
kerap dia membiarkanku bercakap-cakap
dengan diri sendiri
kadang dia membiarkanku tenggelam
dalam lautan hampa
tapi kadang hening tiada
hingga aku harus mengoyak senja
menyisirnya pada semburat kaki langit
dani jika malam tiba
hening akan memelukku erat-erat
dalam damai yang lelap

Bunga Padang Rumput
Dari jendela kamar
selaksa bunga padang rumput
menari bersama angin
putih hijau, putih hijau
sesekali deritan dahan beradu
seakan suara gendang ditabuh
bunga padang rumput terus menari
berputar di pangkuan bumi

Senja
Selarik awan melengkung ringan
pada pucuk enam gedung tepi sungai Hudson
tirai hujan mengaburkan pandangan
pada senja ini kukatakan,
cintaku padaMu hanya setarikan nafas...

puisi pada malam

Imaji

Siapa sangka
Imaji akan datang
Pada tengah malam buta
Di tepian sungai Hudson

Dalam diam, dia berkata, “Berpikirlah!”
Mataku nyalang, menatap dalam gelap
Lalu perlahan mulai mengatup, resah
Imaji tiba-tiba menyergah, “Jangan tidur!
Biarkan pikiranmu berkelana, mengembara
di padang tuaian hati
Sudah lama kau tak menetap, mengendap,
meski sejenak.  Janganlah tidur!”.

Tapi mataku enggan terbuka
Dan kelopak mataku bergerak  setengah mati
Lalu tiba-tiba hitam
Dan imaji menghilang
Dalam lelap tengah malam


Ibu

Ibu,
Kita dua perempuan
Yang berbeda pikiran
Mungkin pengalamanlah sebabnya
Mungkin pendidikanlah sebabnya
Mungkin statuslah sebabnya
Yang membuat kita bagaikan bumi dan langit
Yang membuat kita kadang tak terjembatani
Yang membuat kita kadang tak saling memahami
Yang membuat kita seperti dua orang asing
Hanya satu hal yang membuat kita tetap saling menyapa
Karena kita mencintai dunia ini
dan kehidupan ini


Badai

Malam ini
Hujan dan badai menggoncang kota
Ini tak biasa
Hingga angin mengetuk-ngetuk kaca
Dan air menghempaskan diri ke tanah
Apakah marah?
Apakah memang begitulah engkau?
Tak segan berteriak penuh deru
Lalu memaksa sang dingin
Mendekap erat kota
Hingga membuatnya menjadi seperti mati
Malam ini

Si Miskin

Seorang lelaki
Menyeruak masuk kereta
Antara Times Square dan Columbus Circle
Bau busuk menyergap
Karena tak mandi beberapa hari
Dan satu-satu orang menutup hidung

Lelaki itu berkata,
“Michael Jakson dan John Lenon bertemu di surga
Membuat konser musik di sana
Berharap cinta ditebarkan”
Dan orang-orang tertawa
Lelaki itu juga tertawa
Lalu menari, sembari mengangsurkan kaleng koinnya

Dan satu-satu orang memasukkan koin
Berterima kasih atas hiburannya
Pada si miskin yang tetap percaya
Bahwa dunia ini tetap butuh
Para pemimpi
Tapi, aah, tetap saja
Si miskin ada di mana-mana